Yeni Galuh Forum
Hallo...!



 
IndeksPendaftaranLogin

Share | 
 

 .:: Ketika Urusan Nyawa Dikelola Oleh Para Penebar Pesona ::

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting : 1991
Age : 45
Location : Jakarta
Job/hobbies : don't trust anybody
Registration date : 07.03.08

PostSubyek: .:: Ketika Urusan Nyawa Dikelola Oleh Para Penebar Pesona ::   Sun Aug 22, 2010 9:33 pm

Belakangan ini kita santer mendengar pemberitaan bahwa Toyota Motor, produsen mobil terbesar di dunia asal Jepang berencana menarik peredaran 270.000 kendaraan di seluruh dunia. Padahal Toyota mengatakan pihaknya belum menerima laporan apapun tentang kecelakaan atau kerugian berkaitan dengan persoalan tersebut.

Tapi karena cacat mesin yang menimpa sejumlah mobil, termasuk sedan mewah Lexus dan Crown itu beresiko membuat orang kehilangan nyawa, Toyota tetap melakukan penarikan produk mereka yang terbukti gagal tersebut meski mereka menanggung kerugian sebesar triliunan rupiah. Apa yang dilakukan oleh Toyota itu adalah cerminan MORALITAS bangsa asia timur yang budayanya, kalau dipandang dari segi moralitas bangsa Indonesia jelas budaya jahiliyah karena mereka memiliki budaya semacam Geisha dan masyarakatnya tidak pernah protes terhadap kelakuan artis semacam Maria Ozawa.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, di Indonesia yang merupakan negeri kaum moralis dan agamis ini kita juga mendengar cerita tentang kecacatan sebuah produk yang bernama TABUNG GAS ELPIJI yang diedarkan oleh Pertamina atas usul pemerintah Indonesia.

Meski tidak persis sama, kasus ini mirip dengan yang dialami Toyota yaitu beredarnya produk yang berpotensi merenggut nyawa manusia.

Satu beda yang sangat jelas dalam dua kasus ini adalah, kecacatan produk TABUNG GAS ELPIJIini bukan hanya laporan, tapi sudah menjadi teror tersendiri karena kemampuannya yang luar biasa dalam merenggut nyawa rakyat negeri ini. Bahkan belakangan berita keberhasilan produk yang bernama tabung gas elpiji ini dalam meyebar teror dan merengut nyawa penduduk negeri ini hampir kita dengar setiap hari.

Kemudian beda yang lain adalah dalam hal penanganan, kalau Toyota langsung menarik total produknya yang nilainya paling murah di kisaran ratusan juta itu sebaliknya Pemerintah dan Pertamina adem-ayem saja menyaksikan produknya yang berharga di kisaran maksimal ratusan ribu, berubah fungsi menjadi malaikat pencabut nyawa. Mereka malah dengan penuh percaya diri mengatakan kalau kejadian itu terjadi akibat kecerobohan pemakai, sementara Pemerintah dan Pertamina sendiri dengan santai buang badan.

Perbedaan lain, membeli Toyota adalah pilihan, tidak ada paksaan, tidak ada keharusan. Tanpa membeli Toyota orang tidak akan mati karena masih ada merek mobil lain untuk dibeli, sementara Elpiji, kalau tidak memakai elpiji maka bersiap-siaplah masak menggunakan minyak tanah yang sulit didapat dan kalaupun dapat harganya melambung tinggi.

Kalau di negara lain baru satu atau dua orang warganya yang menjadi korban, pemerintah sudah langsung bertindak tanpa menunggu munculnya protes di masyarakat karena gencarnya berita di koran dan televisi, di negeri tempat bersemayamnya kaum moralis dan agamis sejati ini tidak demikian halnya. Korban sudah berjatuhan setiap hari pun pemerintah dan DPR belum juga terlihat peduli.

Dalam menangani masalah teror tabung gas ini, alih-laih membuat tenang, yang ada, oleh pemerintah kita disuguhi tontonan yang tidak lucu.

Korban sudah berjatuhan dimana-mana, tapi pemerintah yang merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas kehadiran tabung gas 3 kilogram ini di dapur-dapur kita terlihat kebingungan sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa.

Baru setelah rentetan kejadian ledakan ini semakin banyak terjadi, dan media massa mulai ramai memberitakan pemerintah dan Pertamina berhasil dibangunkan dari mimpi indah mereka. Tapi itupun hanya terbangun saja, masih jauh dari menemukan solusi bagi permasalahan yang ada, melainkan lebih untuk mencari popularitas alias tebar pesona.

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh menolak jika dikatakan pemerintah tidak berbuat apa-apa dalam menangani maraknya ledakan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg).

"Kejadian ledakan tabung baru-baru ini membuat kami makin intensif rapat," aku Darwin.

Begitulah setelah dengan susah payah berhasil dibangunkan dari mimpi indahnya pun, yang mampu dilakukan pemerintah dan Pertamina adalah R A P A T dan hasil R A P A T itu apa? KAMBING HITAM...

Seusai rapat, yang dipersalahkan sebagai penyebab semua kebakaran dan kematian yang disebabkan oleh ledakan tabung Elpiji yang dibagikan secara gratis oleh Pemerintah supaya rakyat tidak menggunakan minyak tanah lagi, adalah kambing hitam hasil temuan rapat itu bernama selang dan regulator palsu dan atribut pendukungnya.

Dari hasil penelitian selama ini, banyaknya peristiwa ledakan gas disebabkan oleh selang yang tidak standar dan tidak ada satupun yang diakibatkan oleh tabung yang bocor. "Jadi, jangan pakai selang sembarangan," pesan Darwin waktu itu dengan penuh percaya diri. Kejadian ini terjadi pada 26 Jun 2010.

Sementara 'kambing putih' yaitu spesifikasi solderan atau sambungan tabung gas yang tidak berkualitas serta banyaknya beredar tabung Gas palsu yang bisa jadi tidak benar-benar palsu karena sebagaimana umum kita temukan dalam setiap pelaksanaan proyek pemerintah di negeri ini yang ketika proyek jatuh pada kontraktor A yang pemenang resmi, oleh si pemenang kontrak, proyek itu kemudian disubkontrakkan dengan harga lebih murah kepada pelaksana lain kontraktor B, bahkan tidak jarang nya lalu Kontraktor B ini pun mensubkontrakkan lagi order tersebut ke Kontraktor C. Sehingga, agar semua lapisan itu mendapatkan untung, mau tidak mau kualitas pekerjaan harus dikurangi.

Maka tidak heranlah kalau sejak 26 Juni 2010 ketika Darwin mulai intensif rapat itu, ledakan Gas terus terjadi hampir setiap hari, berdasarkan data Mabes Polri Kasus ledakan yang terjadi pada tahun ini saja sudah mencapai 38 kasus. Sehingga kasus ini pun semakin menarik buat disiarkan oleh stasiun televisi.

Untuk mendapatkan rating tinggi, stasiun televisi pun mulai memasukkan unsur drama agar perhatian masyarakat semakin fokus pada masalah ini. Rido, anak yang bercita-cita menjadi polisi yang wajahnya rusak akibat ledakan gas dibawa ke studio televisi untuk disaksikan secara nasional, bersama rido dihadirkan pula bayi yang baru lahir yang selamat dari ledakan karena masih berada dalam kandungan, sementara ibu, bapak dan kakaknya tewas.

Dan benar saja strategi ini benar-benar berhasil menarik perhatian yang lebih luas dari masyarakat.

Perhatian masyarakat yang meluas ini pun membuat DPR mau tidak mau harus tampil ke depan....kalau kali ini tetap diam, tentu saja Citra dan Pesona yang jadi taruhan, bisa-bisa pada Pemilu depan tidak terpilih lagi.

Hasilnya?... Pada Jumat, 16 Juli 2010 kemarin setidaknya ada 20 anggota Komisi VII DPR dari berbagai fraksi pun meneken usulan pembentukan Panitia Kerja Tabung Gas 3 Kilogram. Alasannya, mereka menilai, pemerintah ceroboh dalam pelaksanaan konversi minyak tanah ke elpiji.

Sementara, pada hari yang sama, di Parepare Sulawesi ditemukan 8.000 tabung elpiji ukuran 3 kilogram (kg) dalam kondisi rusak. Umumnya, tabung-tabung tersebut sudah dalam kondisi berkarat dan bocor. Di Ngawi Jawa Timur, sidak yang dilakukan Pemda setempat menemukan 5.646 tabung elpiji di SPPBE Ngawi, dalam kondisi rusak, Kondisi tabung umumnya patah pegangannya, berkarat, penyok, ataupun bocor," kata Kepala Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten Ngawi Sugianto, Jumat (16/7/2010). http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/16/15331961/Lagi..5.646.Tabung.Gas.Ditemukan.Rusak

Dua berita ini dengan telak membantah pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh yang pada 26 Juni 2010 silam yang mengatakan "dari hasil penelitian selama ini, banyaknya peristiwa ledakan gas disebabkan oleh selang yang tidak standar dan tidak ada satupun yang diakibatkan oleh tabung yang bocor ", meskipun ucapannya pada 26 Jun 2010 telah terbukti SALAH secara telak, kita tidak melihat adanya permintaan maaf dari Darwin atas kekonyolan yang dia lakukan pada 26 Juni 2010 itu.

Akibatnya DPR pun mulai kasak-kusuk. Selasa (20/7/2010) Komisi VII DPR RI berencana melakukan Rapat Kerja dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Direktur Utama Pertamina dan Badan Standarisasi Nasional tapi batal dilaksanakan karena para menteri dan pejabat Polri yang diundang tak hadir. Menurut keterangan dari pimpinan Komisi VII Effendi Simbolon, Menko Kesra tak dapat hadir karena tengah berada di luar negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kurang sehat, dan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri memiliki kesibukan lain.

Di sisi lain, pemerintah, seperti biasa, tidak mau disalahkan atas terjadinya peristiwa tragis ini.

Pada malam hari setelah kegagalan Rapat Kerja Komisi VII di DPR RI itu, TVone menghadirkan 2 orang anggota DPR, Effendi Simbolon dari PDIP yang beroposisi dan Sutan Bhatoegana dari Partai Demokrat yang mendukung pemerintah, oleh TVone mereka dihadirkan di depan para korban ledakan tabung gas ini untuk dibenturkan pendapatnya atas terjadinya tragedi tabung gas ini.

Dalam acara yang disiarkan langsung oleh TVone itu, Effendi Simbolon tanpa tedeng aling-aling langsung menyerang kebijakan pemerintah yang dianggap gagal, karena memang sejak awal katanya fraksinya telah menentang dilakukannya konversi minyak tanah ke gas dengan cara yang terburu-buru seperti ini.

Tapi Sutan Bhatoegana yang partainya adalah pendukung utama pemerintah, dengan tanpa malu-malu di depan para korban mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya sukses dengan program konversi ini, untuk membela pemerintah dia kemudian menyalahkan situasi belakangan ini ketika mulai banyak beredar tabung palsu dan orang-orang yang mengambil manfaat dari adanya konversi ini, yang menjadi penyebab jatuhnya korban.

Pernyataan Sutan Bhatoegana ini benar-benar menghina akal sehat kita, karena bukan hanya PDIP, sejak awal rencana konversi minyak tanah ke kompor gas dengan tabung ukuran tiga kilogram, banyak pihak telah mewanti-wanti pemerintah untuk menyiapkan tata kelola yang memadai. Sebab kebijakan konversi tersebut mengandung risiko tinggi jika tidak ada standar pengelolaan dan pengawasan yang baik.

Dan, ternyata sekarang ini terjadi banyak ledakan. Ini jelas bukti pemerintah tidak punya pengelolaan dan antisipasi yang mencukupi.

Jadi kok malah banyaknya tabung palsu dan orang-orang yang mengambil manfaat dari adanya konversi ini yang disalahkan, bukankah semua itu terjadi karena pemerintah yang lalai dalam melakukan pengawasan?

Yang lebih membuat emosi adalah ketika Effendi Simbolon mempersalahkan pemerintah yang terlalu cepat menarik minyak tanah dari peredaran yang membuat masyarakat yang banyak yang sebenarnya belum siap, tiba-tiba terpaksa harus mengubah kebiasaan dari yang sebelumnya memasak dengan kompor minyak tanah sekarang harus menggunakan elpiji.

Menanggapi serangan itu, Sutan Bhatoegana, di depan ibu yang kehilangan anak yang kehilangan anak, menantu dan cucunya dan ibu yang anaknya mengalami kerusakan wajah akibat ledakan gas, sambil tertawa-tawa dengan wajah yang tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun dengan santai mengatakan bahwa pemerintah tidak pernah memaksa masyarakat menggunakan Gas. Menggunakan gas adalah pilihan masyarakat sendiri, karena kenyataannya minyak tanah tetap ada di beberapa SPBU, cuma harganya lebih mahal. Dan untuk menebar pesona, di ujung kalimatnya itu Sutan Bhatoegana tidak lupa menyelipkan kata-kata bahwa dia sangat menghargai nyawa rakyat Indonesia.

Kalau ucapan Sutan Bhatoegana ini kita simpulkan secara jernih, maka dengan pernyataannya ini, Sutan Bhatoegana sebenarnya sama saja dengan mengatakan kalau rakyat yang menjadi korban ledakan tabung gas yang penggunaannya dianjurkan oleh pemerintah tanpa memberi banyak pilihan lain itu adalah karena salah rakyat sendiri, kenapa dulu mereka mau mengikuti anjuran pemerintah untuk beralih dari kompor minyak tanah yang aman ke tabung elpiji 3 kg, kenapa untuk memasak korban tidak tetap menggunakan minyak tanah yang kini harganya sangat mahal dan susah didapat?

Dan dengan pernyataannya ini, sebenarnya Sutan Bhatoegana sama saja dengan mengatakan kepada korban, salah sendiri kenapa kamu jadi orang miskin, makanya kamu jadi korban ledakan.

Jika dinilai dari kacamata moralitas orang Jepang dan orang-orang tak beragama di eropa sana, apa yang diucapkan oleh seorang anggota DPR bernama Sutan Bhatoegana di hadapan para korban ledakan tabung gas yang hadir ke dapur mereka karena dibagikan oleh pemerintah ini, jelas sangat tidak etis dan tidak bermoral.

Saya tidak bisa membayangkan di negara demokratis lain akan ada anggota DPR yang masih bertahan di posisinya setelah mengucapkan hal yang sangat tidak etis seperti ini di depan public dan disiarkan oleh televisi secara nasional.

Tapi itulah ajaibnya negeri yang ditinggali kaum moralis dan agamis yang dikelola oleh para penebar pesona ini.

Ketika ada seorang wakil rakyat mengucapkan kata-kata tak bermoral yang menyakitkan hati rakyat di depan publik, tidak ada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang mengecam dan mempermasalahkan MORALITAS sang anggota dewan.

Ini sangat berbeda dengan suasana ketika video Ariel bersama Cut Tari dan Luna Maya beredar, saat itu, untuk menunjukkan tingginya moral yang mereka punya, semua tokoh berlomba-lomba berkomentar dan menekan pemerintah untuk menuntaskan masalah ini.

Dan dalam menghadapi kasus seperti itu, pemerintah pun sangat cepat merespon dan sangat bisa diandalkan untuk segera mengatasinya.

Tapi ketika di negara ini kita mengalami masalah yang berhubungan dengan keselamatan nyawa dan keselamatan, maka kita sendirilah selaku rakyat yang harus menemukan solusi untuk permasahan yang menyangkut HIDUP dan MATI ini.

Kalau kita cukup kaya, kita boleh memasak pakai minyak tanah, kalau tidak pakai kayu bakar, kalau kita cukup kreatif, kita bisa menggunakan sumber energi lain, seperti yang dilakukan oleh Abdul Fatah, warga Desa Widoropayung, Kecamatan Besuki, Situbondo, yang memanfaatkan kotoran sapi yang diolah menjadi biogas untuk pengganti elpiji.

Kalau tidak mampu, ya silahkan tetap gunakan Elpiji tabung 3 kilogram dan kalau tidak ingin menjadi korban ledakan yang berikutnya...berdoalah dengan khusuk setiap hari.

Sebenarnya, konversi minyak tanah ini adalah program lama yang dibuat di masa pemerintahan SBY di periode pertama. Tapi kenapa waktu itu tidak ada masalah, kok masalah tidak ada masalah, kenapa era kok jatuhnya banyak korban dan amburadulnya pengawasan baru muncul sekarang di era kepemimpinan SBY-Berbudi, bukan di masa SBY-JK?

Bisa jadi karena di era kepemimpinannya yang pertama itu, SBY ditemani oleh wakil yang bukan hanya bisa menebar pesona tapi memang bisa dan biasa BEKERJA.

Tapi karena pada Pemilu silam kita telah memutuskan untuk memilih wakil dan pemimpin kita karena PESONA yang ditampilkannya, bukan karena keterampilan, pengetahuan dan kemampuannya dalam mengatasi masalah dan bekerja.

Maka sebenarnya saat itu kita telah mempercayakan pengelolaan negeri ini termasuk urusan NYAWA kita kepada mereka.

Jadi tak perlu heran lah ketika sekarang para wakil dan pemimpin yang kita pilih ini berhadapan dengan berbagai masalah termasuk yang menyangkut NYAWA kita selaku rakyatnya, maka cara yang mereka lakukan untuk mengatasinya pun apalagi kalau bukan dengan cara yang telah sukses mereka gunakan untuk memukau kita semua, yaitu TEBAR PESONA.

Win Wan Nur

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
 
.:: Ketika Urusan Nyawa Dikelola Oleh Para Penebar Pesona ::
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Salam Kenal para detektif sekalian..
» bunyi pada bagian depan ketika mesin masi dingin
» Arti Cinta
» bercanda dengan LOGIKA
» Biodata Shinobi

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Yeni Galuh Forum :: *** PENDHOPO AGUNG *** :: -= Lantar Tanding =--
Navigasi: