YeniGaluh Forum
Hallo...!


Indeks­Pendaftaran­Login
Kirim topik baru   Kirim balasanShare | 
 

 [artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
God of W
Tamu



PostSubyek: [artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri   Wed Oct 31, 2007 1:30 pm

Ketika kita belajar agama Buddha, kita belajar tentang diri kita sendiri -
belajar tentang sifat mendasar pikiran kita sendiri. Fokusnya bukan pada
sesuatu yang tertinggi; namun pada hal-hal praktis seperti bagaimana
menjalankan kehidupan sehari-hari dan mengintegrasikannya dengan pikiran
sehingga batin dan pikiran tetap damai dan sehat. Dengan kata lain, fokusnya
pada pengalaman pengetahuan-kebijaksanaan, bukan pandangan dogmatis semata.
Sebenarnya, dalam istilah barat kita tidak bilang Buddhisme itu agama,
tetapi lebih merupakan cara hidup (way of living), filsafat kehidupan
(living philosophy), sains dan psikologi.

Suatu kecenderungan alami dari pikiran manusia adalah mencari kebahagiaan;
baik orang barat maupun orang timur. Tapi bila cara hidupmu terlalu terfokus
pada dunia luar lewat penginderaan dan terikat secara emosional, hal ini
sangat berbahaya - kalian tidak punya kendali. Pengendalian diri bukan hanya
kebiasaan timur atau sebuah perjalanan Buddhis; kita semua butuh
pengendalian diri. Terutama bagi mereka yang materialistis dan secara
psikologi terlalu terikat pada bentuk luar. Dari sudut pandang Buddhis,
pikiran seperti itu tidak sehat, sakit mental. Kalian sudah tahu bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan eksternal saja tidak dapat memuaskan nafsu
keinginan atau menghentikan masalah emosional.

Maka metode-metode ajaran Guru Buddha menunjukkan sifat mendasar batin
pikiran manusia, potensi manusia dan bagaimana kalian dapat mengembangkan
diri. Lebih-lebih, metode ini tidak terfokus pada "percaya membabi buta"
atau sekedar pemahaman metafisik.

Namun, baik kalian religius atau tidak, atau seorang yang "percaya pada"
atau "tidak percaya pada", yang paling penting adalah mengetahui sifat dasar
pikiran kalian sendiri. Bila tidak, kalian gampang beranggapan bahwa kalian
sehat dan berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari padahal
kenyataannya akar dari emosi-emosi yang mengganggu tumbuh semakin kuat dan
dalam dalam pikiran kalian. Dengan penyebab fundamental dari penyakit mental
dalam diri sendiri, suatu perubahan kondisi yang terkecil bisa menimbulkan
penyakit mental dan saraf. Selama kalian tenggelam dalam keterikatan membuta
pada dunia sensasi, tidak tahu sifat dasar pikiran, ini dapat terjadi.
Kalian tidak dapat menolaknya dengan berkata, "Saya tidak percaya." Kamu
tidak dapat menolak hidung sendiri dengan berkata, "Saya tidak percaya saya
mempunyai sebuah hidung. " Percaya atau tidak, hidung kamu tetap berada di
tempatnya bukan !

Banyak orang barat berkata,"Saya tidak percaya apapun"; mereka sangat bangga
akan pernyataan mereka itu. Tapi coba periksa - sangat penting untuk
diketahui. Di dunia barat yang notabene tradisi kekristenan punya banyak
kontradiksi : ilmuwan beranggapan mereka sendiri adalah kaum tidak percaya;
kaum religius beranggapan mereka sendiri kaum yang "percaya". Namun, baik
yang percaya atau tidak, kalian terpaksa harus mengetahui pola dasar pikiran
sendiri.

Kamu selalu berbicara tentang godaan keterikatan, tapi tak tahu bagaimana
mengendalikannya. Hanya berbicara saja itu gampang, tapi untuk mengetahui
sifat dasar dari keterikatan itu sangat sulit. Contohnya, mobil dan pesawat
ditemukan untuk membuat pekerjaan lebih cepat dan lebih banyak waktu santai;
tapi hasilnya pikiran tambah gelisah daripada sebelumnya. Saya tidak
mengeluh atau "complain", tapi coba cek sendiri kehidupan sehari-hari.

Apa yang saya katakan adalah bila seluruh negara tenggelam dalam dunia panca
indera di bawah kendali keterikatan besar, kalian tidak punya kesempatan
atau waktu untuk melihat realita pikiran sendiri. Susah gaya hidup seperti
itu. Susah untuk benar-benar menikmati kegembiraan dan mengalami kepuasan
batin, karena kepuasan batin sejati datang dari batin pikiran, bukan dari
luar.Kaum muda modern yang terpelajar dan skeptis memang punya pemahaman
akan apa yang bernilai dalam hidup, dan tahu bahwa kegembiraan tidak datang
dari benda-benda yang bersifat sementara semata.

Ketika Guru Buddha berbicara banyak tentang penderitaan, Beliau tidak
menunjuk semata-mata pada rasa sakit dan penyakit pada tubuh tapi pada
"ketidakpuasan". Ketidakpuasan adalah penderitaan nyata. Berapapun yang
kalian peroleh, nafsu keinginan tidak reda, selalu ingin lebih. Itulah
perasaan menderita; itulah frustrasi yang bersifat khayalan.

Psikologi Buddhis menyebutkan 6 dasar dari khayalan batin, yang membuat
frustrasi dan mengacaukan kedamaian batin manusia sehingga "stress" :
keterikatan, kemarahan, ketidaktahuan batin, kebanggaan diri, keragu-raguan
yang ternoda dan terjebak dalam pandangan salah. Ini adalah fenomena mental
bukan eksternal.

Jadi, ketika Guru Buddha mengajarkan bagaimana mengatasi khayalan batin,
Beliau menekankan pentingnya pemahaman akan sifat dasar diri kita, tidak
hanya "percaya akan" dan keyakinan saja. Tanpa menyelidiki pikiran sendiri
dan mengembangkan kebijaksanaan pengetahuan yang bersifat introspeksi, tidak
mungkin mengembangkan pemahaman demikian. Bahkan bila kita berbicara panjang
lebar tentang khayalan batin, kita sesungguhnya tidak tahu apa-apa.

Khayalan batin fundamental itu datang dari ego, mereka membuat pikiran
stress. Untuk terbebas, kalian tidak perlu menyerahkan semua milik anda.
Simpanlah milik anda, tapi bila melakukannya dengan keterikatan, anda hanya
akan membuat diri sendiri stress dan susah; pikiran hanya menjadi berkabut
dan terpolusi. Pikiran tidak jernih adalah sumber kedunguan dan kegelisahan;
cahaya kebijaksanaan tidak dapat bersinar dalam pikiran itu. Solusinya :
meditasi.

Meditasi tidak hanya duduk diam di sudut, mencoba mengembangkan satu titik
konsentrasi. Namun adalah jenis kebijaksanaan bebas dari rasa malas yang
berguna untuk kewaspadaan kondisi pikiran. Dalam kehidupan sehari-hari,
kalian mestinya waspada akan apa yang dilakukan, mengapa dan bagaimana
melakukannya. Biasanya kita melakukan sesuatu tanpa disadari : makan tapi
dengan perhatian pada hal lain, minum tanpa disadari, berbicara tanpa
disadari. Kita tak tahu apa yang terjadi dalam pikiran, walaupun kita bilang
kita sadari. Saya tidak menilai, mengecewakan kalian tapi coba periksa
sendiri. Jalan hidup Buddhis adalah menempatkan ajaran untuk diamalkan dan
dialami. Saya tidak berbicara tentang sesuatu di langit. Sangat sederhana.

Bila kalian tidak tahu sifat dasar keterikatan dan obyek-obyeknya, tidak
mungkin untuk memiliki kasih sayang kebaikan hati untuk teman-teman,
orangtua dan negara. Karena pikiran kalian tidak sadar, kalian melukai
orang-orang terdekat sendiri. Sama halnya, seseorang yang sedang marah
benar-benar lupa akan dirinya sendiri; dia tidak tahu apa yang terjadi dalam
pikiran. Kalian tentu tahu hal ini; ini hanyalah contoh apa yang terjadi
pada manusia. Banyak kali kita melukai orang lain tanpa disadari : kita
tidak hati-hati akan tindakan atau sikap batin kita dan tidak menghormati
orang lain.

Di barat banyak orang yang berpendidikan khusus dalam psikologi. Tapi Guru
Buddha menginginkan kita semua menjadi psikolog; kalian seharusnya tahu
pikiran sendiri. Guru Buddha merasa bahwa hal itu pasti mungkin, semua
manusia punya potensi untuk mengerti, dan lalu mengendalikan pikiran
sendiri. Ketika kalian memahami pikiran sendiri, kontrol datang secara
alami. Jangan pikir bahwa mengamati pikiran sendiri hanyalah perjalanan
Himalaya, sesuatu hanya untuk mereka yang miskin papa. Periksalah, saat
secara emosional terlibat dengan sesuatu, daripada bereaksi lebih baik
rileks; cobalah untuk waspada apa yang sedang dilakukan. Tanyalah diri
sendiri, "Saya sedang ngapain ? Bagaimana ? Apa yang membuat saya melakukan
hal ini ?" Benar-benar indah bila anda bisa menganalisa seperti ini. Dengan
pengertian, kalian dapat menghentikan masalah dengan gampang. Masalahnya
adalah kita kekurangan kebijaksanaan pengetahuan intensif, atau kewaspadaan,
atau kesadaran.apapun namanya.

Maka, untuk memberikan kasih sayang kebaikan pada orang lain, anda harus
tahu sifat dasar obyek. Bila tidak tahu, anda akan terjebak dalam perjalanan
ego sombong lainnya. " Saya cinta dia". Pastikan anda tahu bagaimana dan
mengapa - penting sekali untuk menjadi ahli terapi bagi diri sendiri.
Barulah anda dapat merawat diri sendiri dengan kebijaksanaan alami dan
menikmati barang-barang milik sendiri dengan pikiran santai daripada dengan
pikiran stress dan amarah, yang merusak diri dan hidup.

Untuk menjadi seorang psikolog, tidak perlu belajar filosofi yang susah;
cukup mengamati pikiran sendiri tiap hari. Kalian mengamati benda-benda
materi setiap hari - makanan di dapur, contohnya - maka mengapa tidak
memeriksa pikiran sendiri ? Ini lebih penting.

Kehidupan di barat berlandaskan falsafah "saya selalu dapat membeli solusi
untuk masalah-masalahku di supermarket". Kalian berpikir bahwa selalu dapat
pergi ke apotik dan membeli pil-pil, dan bila frustrasi emosi dapat mendapat
obat dari dokter. Apakah kalian pikir pengobatan seperti itu dapat menolong
? Tentu tidak. Walaupun kelihatan menolong, mereka tidak kekal.

Mereka bahkan tidak menghancurkan gejala-gejala emosi yang menipu; mereka
hanya membuat melempem dan lebih bodoh.Pandangan materialistis berpikir
kenikmatan dan kebahagiaan dapat dibeli, tapi tidak demikian. Secara halus
ia mengatakan bahwa kedamaian batin dapat dibeli di supermarket. Itu
benar-benar salah kaprah. Orang-orang religius juga seharusnya mencoba
mengerti pikiran mereka sendiri daripada sekedar "percaya-percaya pada
sesuatu". Dan lagi lebih praktis. Percaya belaka tidak dapat menyelesaikan
persoalan hidup; hanya pengertian kebijaksanaan dapat melakukannya.

Guru Buddha bahkan berkata bahwa berbahaya hanya percaya pada Buddha dan
Beliau mendesak kita untuk mengerti cara kerja batin pikiran. Ketika kamu
menemukan sesuatu dalam batin pikiran, barulah masuk akal untuk
mempercayainya. Kepercayaan atau keyakinan berdasarkan realisasi atau
pengertian intelektual yang jernih benar-benar sempurna dapat diterima. Tapi
bila anda tidak jelas mengapa anda percaya yang dilakukan, keyakinan anda
dapat dengan mudah dihancurkan orang lain. Banyak manusia-manusia yang
cenderung spiritual itu lemah karena tidak mengerti sifat sejati dari
semangat atau pikiran. Pengertian adalah sebuah bentuk energi mental : itu
mendukung pikiran sendiri dan membuatnya tetap sehat.

Ketika mengerti pandangan pikiran sendiri, atau cara persepsi obyek-obyek,
anda menyadari bahwa selama ini yang anda genggam kuat dunia sensasi - dan
khayalan masa depan yang idealis hanyalah proyeksi pikiran sendiri dan tidak
memiliki kenyataan fisik yang terhalus sekalipun - anda benar-benar tidak
sadar akan saat sekarang. Kalian harus setuju bahwa inilah sebuah kondisi
pikiran yang tidak sehat.Penting kiranya untuk mempertahankan kewaspadaan
sepanjang hari. Sifat dasar kebijaksanaan dan kewaspadaan adalah kedamaian
dan keriangan. Kamu tidak harus terikat pada pengalaman kesenangan atau
apapun yang bisa membawa keriangan - kamu cukup bertindak tepat dengan
pengertian benar. Maka hasil berupa kebahagiaan muncul spontan. Kamu tidak
harus berpikir, "Bila aku menghabiskan hidupku berkelakuan seperti ini, di
kehidupan setelah mati aku akan mendapat buah-buah baik." Kalian tidak perlu
terobsesi dengan mendapatkan pencerahan atau yang lain. Selama bertindak
dengan bijaksana, maka kalian akan mendapat pencerahan kedamaian abadi.

Dari "Second Dharma Celebration", 5- 8 November 1982, New Delhi, India.
Lama Thubten Yeshe memberikan ajaran ini di Australia, 1975. Diedit oleh
Nicholas Ribush.
Pertama kali dipublikasikan oleh Tushita Mahayana Meditation Centre, New
Delhi, 1982. Dicetak kembali bulan Januari-Februari 1998 dalam Mandala,
majalah berita FPMT.

_________________
Kembali Ke Atas Go down
HAN'
[YG]-=Silver=-
[YG]-=Silver=-


Male
Jumlah posting: 329
Age: 34
Location: |Kerajaan KAHYANGAN|
Registration date: 02.11.07

PostSubyek: Re: [artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri   Tue Nov 06, 2007 7:41 am

artikel bagus....
lanjutkan.......

_________________
victory., Being defeated is only a temporary condition; giving up is what makes it permanent..!!!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.google.com
muhjafar
[YG]-=Silver=-
[YG]-=Silver=-


Male
Jumlah posting: 263
Age: 32
Location: Makassar
Job/hobbies: Sport, Denger Muzik, Baca Buku
Registration date: 11.03.08

PostSubyek: Re: [artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri   Sat May 10, 2008 1:20 pm

Maaf numpang juga. Sebenarnya Islam juga mengajarkan hal itu :"mulailah belajar dari diri sendiri" atau dalam kata2 hikmah dikatakan : untuk bisa mengenal Tuhan terlebih dahulu harus mengenal diri sendiri. 'Ye...Yes...!!!'
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.jafar2001.blogdetik.com
ngsyes
[YG]-=Imitation=-
[YG]-=Imitation=-


Male
Jumlah posting: 3
Age: 23
Registration date: 19.11.08

PostSubyek: Re: [artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri   Fri Nov 21, 2008 5:09 pm

sunny artikel mantap.......
tambah lagi...............artikelnya
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ngsyes
[YG]-=Imitation=-
[YG]-=Imitation=-


Male
Jumlah posting: 3
Age: 23
Registration date: 19.11.08

PostSubyek: Re: [artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri   Fri Nov 21, 2008 5:17 pm

flower Benar. Ajaran Buddha lebih menekankan pada diri sendiri dan tidak tergantung pada dunia luar. Semua yang terjadi pada seseorang apakah itu baik atau buruk ditentukan oleh dirinya sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak lain. Kalaupun ada yang melibatkan orang lain itu hanyalah sebagai perantara. tapi sumbernya sebenarnya berasal dari diri sendiri.,
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

[artikel]Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions of this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
YeniGaluh Forum :: *** SANGGAR PAMUJAN *** :: -=YG'ers Budhaism..=--
Kirim topik baru   Kirim balasan