YeniGaluh Forum
Hallo...!


Indeks­Pendaftaran­Login
Kirim topik baru   Kirim balasanShare | 
 

 Pojok Renungan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 8:29 pm

Maaf TOPIK ini bukan untuk menggurui, namun ini hanya sebagai BAHAN RENUNGAN SAYA Pribadi, tidak ada maksud apa-apa dibalik tulisan ini. Semoga sobat Muslim bisa menerimanya.



Barang siapa sejatinya takut kepada-NYA, hilanglah kebodohan pada dirinya, karena rasa takut adalah cahaya dari-NYA. Ketika cahaya itu memenuhi hati, ia akan takut dengan rasa takut yang sebenarnya. Kebodohanpun sirna, sebab hati hidup dangan cahaya-NYA. Ilmu bersumber dari kehidupan, sedangkan kebodohan bersumber dari kematian.
(Rasulullah SAW)


Terakhir diubah oleh Justice Bao tanggal Sat Mar 08, 2008 11:16 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 8:31 pm

Tuhanku

Bagaimana mungkin wujud-MU dibuktikan dengan sesuatu yang wujudnya membutuhkan-MU.

Apakah selain-MU demikian jelas, kejelasan yang melebihi kejelasan-MU, sehingga selain-MU itulah yang menjelaskan wujud-MU?

Lalu kapankah Engkau gaib/menghilang sehingga dibutuhkan bukti tentang wujud-MU.

Kapankah Engkau menjauh sehingga diperlukan bekas-bekas yang membuktikan kedekatan-MU.

Bagaimana mungkin DIA tertutupi oleh sesuatu, padahal DIA-lah Yang menampakkan segala sesuatu.

Bagaimana mungkin DIA tert.utupi oleh sesuatu, padahal DIA-lah Yang tampak pada segala sesuatu.

Bagaimana mungkin DIA tertutupi oleh sesuatu, padahal DIA-lah Yang zhahir/jelas sebelum wujud segala sesuatu.

Bagaimana mungkin DIA tertutupi oleh sesuatu, padahal DIA-lah Yang jauh lebih jelas dari segala sesuatu.

Bagaimana mungkin DIA tertutupi oleh sesuatu, padahal DIA lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu.

Bagaimana mungkin DIA tertutupi oleh sesuatu, padahal tanpa wujud-NYA segala sesuatu tidak akan wujud
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 11:12 pm

Permasalahan Rumah Tangga


Sedikit sekali rumah tangga yang selamat dari lilitan perselisihan di antara anggotanya, khususnya di antara suami istri. Karena yang namanya berumah tangga, membangun hidup berkeluarga, dalam perjalanannya pasti akan menjumpai berbagai permasalahan, kecil ataupun besar, sedikit ataupun banyak. Permasalahan yang muncul ini dapat memicu perselisihan dalam rumah tangga yang bisa jadi berujung dengan pertengkaran, kemarahan dan keributan yang tiada bertepi, atau berakhir dengan damai, saling mengerti dan saling memaafkan.

Sampai pun rumah tangga orang-orang yang memiliki keutamaan dalam agama ini, juga tidak lepas dari masalah, perselisihan, pertengkaran, dan kemarahan. Namun berbeda dengan orang-orang yang tidak mengerti agama, orang yang memiliki keutamaan dalam agama tidak membiarkan setan menyetir hingga menjerumuskannya kepada apa yang disenangi oleh setan. Bahkan mereka berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari makar setan, berusaha memperbaiki perkara mereka, menyatukan kembali kebersamaan mereka dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka.

Rumah tangga yang mulia lagi penuh barakah, yang dibangun oleh seorang hamba termulia, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, Muhammad bin Abdillah, juga tak lepas dari kerikil-kerikil yang menyandung perjalanannya, sampai beliau pernah bersumpah untuk tidak mendatangi istri-istri beliau selama sebulan karena marah kepada mereka.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 11:13 pm

Berikut ini petikan kisahnya:

Abdullah bin ‘Abbas Radliyallahu ‘Anhu bertutur: “Aku sangat ingin bertanya kepada ‘Umar ibnul Khaththab tentang siapa yang dimaksud dua wanita dari kalangan istri Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan dalam firman-Nya:
“Jika kalian berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh hati kalian berdua telah condong untuk menerima kebenaran. Dan jika kalian berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang baik. Dan selain dari itu, malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (At-Tahrim: 4)

Namun aku tidak sanggup melontarkan pertanyaan karena segan terhadapnya hingga akhirnya ‘Umar berhaji dan aku pun berhaji bersamanya. Dalam perjalanan, ‘Umar berbelok menuju suatu tempat untuk buang hajat. Aku pun mengikutinya dengan membawakan bejana kecil dari kulit yang berisi air. Seusai buang hajat, aku menuangkan air di atas dua telapak tangannya, lalu ia pun berwudhu. Kemudian aku berjalan bersamanya dan kesempatan itu kugunakan untuk bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, siapakah dua wanita dari istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan dalam firman-Nya:
“Jika kalian berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh hati kalian berdua telah condong untuk menerima kebenaran.” (At-Tahrim: 4)

“Alangkah anehnya engkau ini, wahai Ibnu ‘Abbas!1 Keduanya adalah ‘Aisyah dan Hafshah,” jawab ‘Umar.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah, sejak setahun lalu aku ingin bertanya kepadamu tentang hal ini namun aku tidak sanggup menanyakannya karena segan terhadapmu.”

“Jangan berbuat demikian. Apa yang engkau yakini aku memiliki ilmu tentangnya maka tanyakanlah. Bila memang aku mengetahuinya, aku akan beritakan kepadamu,” kata ‘Umar.

‘Umar pun menceritakan kejadian yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut. “Aku dan tetanggaku dari kalangan Anshar berada di tempat Bani Umayyah bin Zaid, mereka termasuk penduduk daerah yang dekat dengan kota Madinah. Kami bergantian menghadiri majelis Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, sehari giliranku, hari berikut gilirannya. Bila tiba giliranku, akupun mendatangi tetanggaku tersebut untuk menceritakan berita yang kudapat pada hari itu berupa wahyu atau yang lainnya. Bila tiba gilirannya, ia pun melakukan hal yang sama. Dan kami orang-orang Quraisy menguasai istri-istri kami dan dahulu kami tidak pernah menyertakan mereka dalam urusan kami. Ketika kami datang (ke Madinah) dan tinggal di kalangan orang-orang Anshar, kami dapatkan mereka itu dikalahkan istri-istri mereka. Maka mulailah istri-istri kami mengambil adab wanita-wanita Anshar. Suatu hari aku menghardik istriku dan bersuara keras padanya, ia pun menjawab dan mendebatku. Ia juga ikut-ikutan dalam urusanku dengan mengatakan: “Seandainya engkau melakukan ini dan itu.” Maka aku mengingkari perbuatannya yang demikian.

“Mengapa engkau mengingkari apa yang kulakukan, sementara demi Allah, istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam sendiri mendebat beliau, sampai-sampai salah seorang dari mereka memboikot beliau dari siang sampai malam,” kata istriku.

Berita itu mengejutkan aku, “Sungguh merugi orang yang melakukan hal itu dari kalangan mereka,” kataku kepada istriku. Lalu kukenakan pakaian lengkapku dan turun menemui Hafshah, putriku.

“Wahai Hafshah, apakah benar salah seorang kalian ada yang marah kepada Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dari siang sampai malam?” tanyaku.

“Iya,” jawab Hafshah.

“Sungguh merugi yang melakukan hal itu,” tanggapku, “Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah karena kemarahan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, hingga engkau pun binasa? Jangan engkau banyak menuntut kepada Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, jangan engkau mendebat beliau dalam sesuatu pun dan jangan memboikotnya. Minta saja kepadaku apa yang ingin kamu minta dan jangan menipumu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.” Yang dimaksud adalah ‘Aisyah.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 11:13 pm

‘Umar melanjutkan ceritanya: “Telah menjadi perbincangan di antara kami bahwa Ghassan memakaikan ladam pada kuda-kudanya sebagai persiapan untuk memerangi kami. Suatu ketika turunlah temanku Al-Anshari itu pada hari gilirannya menuju ke majelis Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Di waktu Isya ia kembali kepada kami lalu mengetuk pintuku dengan keras seraya berkata: “Apakah ‘Umar ada di dalam?” Aku terhentak dan bergegas keluar menemuinya.

“Hari ini sungguh telah terjadi perkara yang besar,” katanya.

“Apa itu? Apakah Ghassan telah datang?” tanyaku.

“Bukan, bahkan lebih besar dan lebih menghebohkan daripada itu. Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam telah menceraikan istri-istrinya,” katanya.

“Betapa meruginya diri Hafshah, sungguh sebelumnya aku telah menduga hal ini akan terjadi,” kataku.

Aku pun mengenakan pakaian lengkapku. Pagi harinya aku menunaikan shalat subuh bersama Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Setelahnya Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam masuk ke masyrubah2 beliau dan menyendiri di dalamnya. Aku masuk ke rumah Hafshah, ternyata ia sedang menangis, “Apa yang membuatmu menangis?” tanyaku. “Bukankah aku telah memperingatkanmu akan hal ini, apakah Nabi  telah menceraikan kalian?”

“Aku tidak tahu, di sana, di masyrubah beliau memisahkan diri dari kami,” jawab Hafshah.

Aku keluar dari rumah Hafshah dan mendatangi mimbar masjid, ternyata di sana ada sekumpulan orang, sebagian mereka sedang menangis. Sejenak aku duduk bersama mereka, kemudian perasaan hatiku menguasaiku hingga aku bangkit dari tempat tersebut menuju masyrubah yang di dalamnya ada Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam. Aku berkata kepada Rabah budak hitam milik Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam: “Minta izinkan ‘Umar untuk masuk menemui Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.” Maka masuklah Rabah lalu berbicara kepada Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, kemudian ia kembali menemuiku seraya berkata: “Aku telah berbicara kepada Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dan menyebutkan permintaanmu namun beliau hanya diam.”

Aku pun berlalu dari tempat tersebut hingga akhirnya aku duduk bersama sekumpulan orang yang ada di sisi mimbar, namun kemudian perasaan hatiku menguasaiku hingga aku kembali menuju ke masyrubah tersebut dan kukatakan kepada Rabah, “Mintakan izin bagi ‘Umar untuk masuk.”

Rabah pun masuk lalu kembali menemuiku seraya berkata: “Aku telah menyampaikan permintaanmu namun beliau tetap diam.”

Aku kembali lagi duduk bersama sekumpulan orang di sisi mimbar, namun sekali lagi perasaan hatiku mengalahkanku, hingga aku mendatangi Rabah dan berkata: “Mintakan izin bagi ‘Umar untuk masuk.”

Rabah pun masuk ke dalam masyrubah2, kemudian keluar lagi seraya berkata: “Aku telah sebutkan permintaanmu namun beliau diam saja.”

Maka ketika aku berbalik untuk berlalu dari tempat itu, budak tersebut memanggilku, “Nabi n telah mengizinkanmu,” katanya.

Aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, ternyata aku dapati beliau tengah berbaring di atas tikar tipis tanpa dialasi kasur sehingga tampak bekas-bekas kerikil di rusuk beliau, dalam keadaan beliau bertelekan di atas bantal dari kulit yang telah disamak, yang diisi dengan sabut. Aku ucapkan salam kepada beliau, kemudian aku berkata dalam keadaan tetap berdiri; “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?”

Beliau mengangkat pandangannya ke arahku, “Tidak,” jawab beliau

“Allahu Akbar,” seruku.

Kemudian aku berkata untuk menyenangkan hati beliau dalam keadaan aku tetap berdiri, “Wahai Rasulullah, kita dulunya orang-orang Quraisy mengalahkan dan menguasai istri-istri kita. Ketika kita datang ke Madinah ternyata orang-orangnya dikalahkan oleh istri-istri mereka.” Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam tersenyum mendengar penuturanku.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 11:14 pm

“Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihatku masuk menemui Hafshah, kukatakan kepadanya: “Jangan menipumu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam –yakni ‘Aisyah,” lanjutku. Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam tersenyum lagi. Maka ketika melihat beliau telah tersenyum, aku pun duduk. Aku memandang isi masyrubah beliau, maka demi Allah tidak ada sesuatu pun di tempat itu kecuali tiga kulit yang belum disamak.

“Wahai Rasulullah, mohon berdoalah engkau kepada Allah agar memberikan keluasan dan kelapangan bagi umatmu, karena Persia dan Romawi telah dilapangkan dunia mereka dan mereka diberi kenikmatan dunia padahal mereka tidak beribadah kepada Allah,” kataku.

Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam duduk setelah sebelumnya beliau bertelekan di atas bantal seraya berkata: “Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab, bahwa kelapangan di akhirat lebih baik daripada kelapangan di dunia? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kebaikan/ kesenangan mereka dalam kehidupan dunia ini.”

“Wahai Rasulullah, mintakanlah ampun untukku,” kataku.

Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam memisahkan diri dari istri-istri beliau selama 29 malam dikarenakan rahasia beliau yang disebarkan oleh Hafshah kepada ‘Aisyah3, beliau menyatakan: “Aku tidak akan masuk menemui mereka selama sebulan.” Beliau sangat marah terhadap mereka karena merekalah yang menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela beliau.4

‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang menyusahkanmu dari perkara wanita? Bila engkau menceraikan mereka, maka sungguh Allah bersamamu, para malaikatnya, Jibril dan Mikail. Aku, Abu Bakar dan kaum mukminin pun bersamamu.”

Ketika telah lewat waktu 29 malam, beliau pertama kali masuk menemui ‘Aisyah. “Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah bersumpah untuk tidak masuk menemui kami selama sebulan, sementara waktu yang kuhitung baru berjalan 29 malam,” tanya ‘Aisyah mengingatkan beliau.

“Bulan ini lamanya 29 malam,” jawab beliau.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat takhyir5, ‘Aisyah-lah yang paling pertama dari istri beliau yang beliau tawarkan pilihan maka ‘Aisyah memilih tetap bersama beliau. Setelahnya beliau pun memberikan pilihan kepada istri-istri beliau yang lain maka mereka semuanya mengucapkan seperti yang diucapkan ‘Aisyah (semuanya memilih tetap bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam).” (HR. Al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim no. 1479)

Pertikaian pun pernah terjadi dalam rumah tangga putri Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, Fathimah Az-Zahra Radliyallahu ‘Anha, seorang yang dikabarkan sebagai tokoh wanita ahlul jannah. Rumah tangga Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu, seorang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.6 Ali pernah marahan dengan istrinya dan setelahnya ia keluar dari rumah menuju masjid dan tidur di sana.

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Nama yang paling disukai oleh Ali Radliyallahu ‘Anhu adalah Abu Turab. Dia senang sekali bila dipanggil dengan nama yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam itu. Suatu hari Ali marah kepada Fathimah, maka ia pun keluar dari rumah menuju masjid dan berbaring di sana. Bertepatan dengan kejadian tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam datang ke rumah putrinya, Fathimah, namun beliau tidak mendapatkan Ali di rumah.

“Di mana anak pamanmu itu?” tanya beliau.

“Telah terjadi sesuatu antara aku dengan dia, dia pun marah padaku lalu keluar dari rumah. Dia tidak tidur siang di sisiku,” jawab Fathimah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam berkata kepada seseorang: “Lihatlah (cari) di mana Ali.”

Orang yang disuruh itupun datang dan memberi kabar: “Wahai Rasulullah! Dia ada di masjid sedang tidur.”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sat Mar 08, 2008 11:14 pm

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam mendatangi Ali yang ketika itu sedang berbaring. Beliau dapatkan rida`-nya telah jatuh dari punggungnya sehingga pasir mengenai punggungnya. Mulailah beliau mengusap pasir tersebut dari punggung Ali seraya berkata: “Duduklah, wahai Abu Turab. Duduklah wahai Abu Turab!” (HR. Al-Bukhari no. 3703 dan Muslim no. 2409)

Demikian perselisihan yang pernah terjadi dalam rumah tangga orang-orang yang mulia, sengaja kami paparkan dengan tujuan agar mereka yang akan membangun mahligai rumah tangga atau telah menjalaninya, menyadari bahwa tidak ada rumah tangga yang lepas dari problema sehingga mereka bersiap-siap dan tidak kaget ketika problem itu datang menghadang. Dan agar mereka tidak terlalu muluk-muluk dalam angan-angan mereka tentang kehidupan berumah tangga7, selalu indah bak bunga-bunga di taman yang bermekaran dengan beragam warna, menampakkan keindahan yang mempesona dan menebarkan aroma yang harum semerbak!!! Rumah tangga tanpa masalah, tanpa problema, tanpa ganjalan, tanpa pertikaian, selalu sejalan, seia sekata, sepakat tanpa pernah ada perbedaan!!! Padahal bayangan ini sesuatu yang teramat langka untuk didapatkan pada sebuah rumah tangga di dunia… Sesuatu yang bisa dikatakan mustahil untuk sebuah akad yang dijalin dengan seorang anak Adam yang senantiasa punya salah, sebagaimana kata Rasul yang mulia Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam:
“Setiap anak Adam itu banyak bersalah. Dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah orang-orang yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616. Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihul Jami’ no. 4514 mengatakan: “(Hadits ini) hasan.”)

Masalah mesti akan dijumpai antara suami istri. Dan ketika masalah itu bergulir di antara keduanya semestinya keduanya berusaha mencari jalan penyelesaian, memperbaiki keadaan, dan menutup pintu rapat-rapat (dari campur tangan orang yang tidak berkepentingan). Bila seorang suami marah atau seorang istri sedang emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari gangguan setan yang terkutuk, lalu bangkit berwudhu dan shalat dua rakaat. Bila salah satu dari keduanya (yang sedang marah, terbawa emosi) dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, bila sedang duduk maka hendaklah ia berbaring. Atau salah seorang dari keduanya menghadap pasangannya, memeluknya dan meminta maaf bila memang ia bersalah melanggar hak pasangannya, dan yang dimintai maaf hendaklah lapang dada dengan memberi maaf karena mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Fiqhut Ta’ammul Bainaz Zaujain, hal. 37)

Tidak sepantasnya ketika ada masalah dengan suami, seorang istri ngambek minta pulang ke rumah orang tuanya. Atau yang lebih parah lagi si istri minggat dari rumahnya, tanpa izin suami tentunya. Padahal di antara hak suami yang harus ditunaikan istri, si istri tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya8.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suami dan tidak halal bagi seorang pun mengambil istri seseorang dan menahannya dari suaminya, sama saja baik karena si istri tersebut seorang perawat, atau seorang bidan atau profesi lainnya. Bila istri tersebut keluar dari rumah suami tanpa izinnya, maka ia telah berbuat nusyuz9, bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ia pantas mendapatkan hukuman.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32/281)

Dengan demikian, bila ada permasalahan rumah tangga, seharusnya suami dan istri berusaha menyelesaikannya berdua bila memang masalahnya bisa diselesaikan berdua. Ibaratnya “tutup pintu rapat-rapat” dari masuknya pihak ketiga dan jangan sampai orang lain tahu masalah tersebut. Jangan tergesa-gesa melibatkan pihak luar, orang tua misalnya, karena dapat memperkeruh suasana, bukan memperbaiki keadaan. Melibatkan orang tua, apatah lagi orang tua yang masih awam, tidak memiliki pandangan dalam agama, belum tentu menyelesaikan masalah, malah bisa menambah panas dan keruhnya permasalahan. Terkecuali orang tua itu seorang yang arif, paham agama dan pandangannya lurus, barulah memungkinkan masalah yang ada diangkat padanya bila memang sepasang suami istri tidak bisa lagi menyelesaikannya berdua.

Sebagai akhir, hendaklah sepasang suami istri selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam seluruh keadaan mereka, di mana pun mereka berada10 dan hendaklah keduanya melazimi (selalu) ketaatan kepada-Nya. Ketahuilah, dengan takwa segala masalah akan mendapatkan pemecahannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha benar janji-Nya telah berfirman dalam Tanzil-Nya:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya.” (Ath-Thalaq: 2)

Dan firman-Nya:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Suamiku, bacakan Riyadlush Shalihiin untukku…   Sat Mar 08, 2008 11:20 pm

“Suamiku tercinta …,
Sungguh rumah kita sepi dari majelis keimanan. Aku ingin engkau membacakan sebuah hadits setiap hari kepada kami dari kitab Riyaadlush Shaalihiin. Aku ingin kami bisa mendengar suara lantangmu menerangkan sirah Rasul Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam dari kitab-kitab sirah. Kapan engkau memulainya, suamiku ? Jangan katakan besok, tapi sekarang. Aku akan akan menyiapkan buku untukmu. Beri kami kesempatan untuk mendengar suaramu, menikmati duduk bersamamu, dan semua anak kita bergembira dengan sifat kebapakanmu (Rasa’il Mutabaadilah baina Zaujain, ‘Abdul Maalik Al-Qaasim)

Ada fenomena yang cukup mengkhawatirkan di kalangan para Ummahat dewasa ini. Setelah menikah dan memiliki anak-anak, para Ummahat seringkali tidak sempat atau tidak diberi kesempatan untuk memperoleh ilmu syar’i yang merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Para ummahat seringkali mengeluh dengan gersangnya rumah dari limpahan cahaya ilmu dan keimanan. Banyak sebab mengapa hal itu terjadi. Padahal dulunya, ketika mereka masih gadis, mereka sangat aktif menghadiri majelis-majelis ‘ilmu. Bahkan merekapun aktif berdakwah menyampaikan ilmu nya di kalangan mereka dan keluarga mereka. Keseharian mereka dulunya dipenuhi oleh lautan ilmu yang bermanfaat. Namun lihatlah, setelah berkeluarga, fenomena futur melanda mereka. Adakah yang salah dari mereka ?

Salah satu penyebab utama futurnya para Ibu / Ummahat dari majelis-majelis ilmu justeru banyak disebabkan oleh sikap dan perilaku sang suami yang tidak peduli dengan ilmu dan agama yang dimiliki isterinya. Dulu ketika akan meminang, para Ikhwan seringkali menginginkan calon isterinya adalah seorang akhwat shalihah yang aktif mengaji, bahkan kalau bisa seorang hafizhoh dan ‘alimah. Setelah menikahi akhwat tersebut, sang Ikhwan yang kini menjadi suami akhwat tersebut seringkali asyik dengan dirinya sendiri, atau terlampau sibuk berdakwah kepada orang lain. Dia lupa atau mungkin enggan dan malas mengajari isterinya sendiri, karena mungkin menyangka bahwa agama isterinya telah cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Padahal hal itu bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari neraka yang bahan bakarnya menusia-manusia dan batu-batu” (Q.S At-Tahrim : 6).

Ayat ini secara tegas memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga diri mereka, kemudian keluarga mereka, sebelum kepada orang lain, dari dosa dan kemaksiatan kepada Allah.

Alangkah banyaknya, isteri yang ketika meninggalkan rumah orang tua menuju rumah suami merupakan wanita yang santun, pemalu, dan tekun beribadah. Namun tidak lama kemudian, ia mencampakkan rasa malu dan kesantunannya itu karena pengaruh, penyimpangan dan kebodohan suaminya (Min Akhtho’il Azwaaj, Syaikh Muhammad Ibrahim Al-Hamd).

Para suami seringkali memanjakan isterinya dengan harta benda dan membiarkan isterinya hidup dalam kemaksiatan dengan menonton TV, radio atau majalah-majalah yang mengandung kerusakan. Maka jadilah para suami mengeluh dengan perilaku isterinya yang buruk, padahal hal itu banyak disebabkan oleh sikap dan tingkah laku suaminya sendiri.

Fenomena ini tidak jarang juga terjadi di kalangan para thulabul ‘ilmi (penuntut ilmu), bahkan di kalangan para da’i sekalipun. Ada seorang isteri ustadz yang mengeluh karena sang suami jarang bertemu dengan dirinya karena sangat sibuk berdakwah dan sering pergi ke luar kota. Hingga jangankan mengajari dirinya dengan ilmu yang banyak manfaatnya seperti bahasa ‘Arab, Ilmu Hadits, Ulumul Qur’an dan sebagainya, bahkan untuk ilmu yang pokok-pun seperti Ilmu Tauhid dan Ibadah tak jarang sang suami melalaikan dirinya. Padahal dulunya dia mengidamkan untuk dapat diajari suaminya yang juga seorang da’i ketika mengerima pinangan dari calon suaminya tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam kita ketahui waktunya sebagian besar dihabiskan untuk mendakwahi umatnya. Tapi hal itu tidak menjadikan Beliau terhalang dan melupakan untuk mengajari isteri-isterinya. Beliau senantiasa mengajari dan memotivasi ibadah bagi para isteri nya. Banyak tersebar riwayat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam mengajari isteri-isteri dan anak-anaknya.

Diriwayatkan dari ‘Urwah bi Zubair yang berkata “Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih mengerti tentang fiqih, kedokteran dan sya’ir daripada ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha” Saksikanlah wahai para suami, tidak mungkin terlahir seorang isteri yang faqih dan shalihah kecuali dari binaan-binaan yang berkesinambungan di dalam kehidupannya sehari-hari.

Jadi hendaklah para suami jangan asyik dengan dirinya sendiri. Bukankah suatu yang teramat indah manakala suami mengajak isterinya berjalan beriring bersama mendatangi majelis ‘ilmu, menyimaknya bersama, dan mendiskusikan ‘ilmu yang baru diperolehnya bersama setibanya di rumah. Dan bukankah suatu keindahan dan kebahagiaan yang tiada tara manakala sang suami mengajarkan isterinya tentang Ilmu syar’i di waktu-waktu yang senggang, mungkin sambil bersenda gurau diantara mereka. Membantu melepaskan kepenatan sang isteri setelah seharian penuh mengurus rumah dan anak-anaknya, dan saling memotivasi untuk ta’at dan rajin beribadah. Sungguh Allah akan semakin menanamkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Belajar dan membaca buku sendiri tentu berbeda nuansanya dengan saling membacakan dan mengajari. Karena dengan adanya interaksi ini, maka akan tumbuh motivasi belajar dan ibadah yang jauh lebih kuat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Radliyallaahu ‘anhuma yang berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda: “Jika seorang suami bangun di malam hari, membangunkan isterinya, kemudian keduanya shalat dua raka’at, maka keduanya ditulis dalam golongan laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jami’)

Dengan demikian, maka dengarkanlah para Suami yang mengharapkan ridla dan karunia Allah berupa isteri-isteri yang shalihah. Jangan pernah biarkan isteri-isterimu terkurung dalam kebodohan dan terkungkung dalam kejumudan di rumah-rumahmu. Ajarkanlah mereka tentang agama ini dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Berikanlah kesempatan pada isteri-isterimu untuk mereguk ‘Ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, karena Nabi Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki suatu kebaikan dari Allah, maka Allah akan memahamkan dirinya tentang Agama (Tafaqquh Fiddiin)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sisihkan sebagian hartamu untuk membelikan buku, kaset dan video ceramah yang bermanfaat dari para ‘ustadz dan ‘ulama untuk didengar dan ditonton oleh isterimu. Serta jauhkan para isterimu dari hal-hal yang melalaikan dirinya selama di rumah. Semoga Allah memudahkan urusan ini bagi kita semua.

Wallaahul Musta’an. (Disadur dari kutaib “Asykuu ilayka Zauji” karya Syaikh ‘Ishom bin Muhammad Asy-Syarif)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
YENI GALUH NURPRATIWI
-= Eyang Putri =-
-= Eyang Putri =-


Female
Jumlah posting: 2687
Location: KAHYANGAN
Job/hobbies: Beauty is my Life
Registration date: 05.10.07

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Sun Mar 09, 2008 10:16 am

Wahhh renungannya panjaaaaaang dan lamaaaa ngebacanya...jadi inget masa sekolah dulu saat pelajaran al-hadits.... Heuheuheuheu... Makasih makasih..kiranya bisa bermanfaat buat yang ngebaca... Ye...Yes...!!!

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://yenigaluh.forumotion.com
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Tue Mar 11, 2008 2:30 pm

Lebih baik dibilang bodoh sementara yang bilang bodoh itu lebih bodoh dari kita.

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Thu Mar 13, 2008 1:49 pm

Jalinan tali silaturahmi itu sangat utama

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Fri Mar 14, 2008 3:12 pm

Cuplikan lirik lagu yang menyentuh banget buat saya ...

If I die tomorrow
I’d be allright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on




Saya mesti siap dengan segala kemungkinan jika esok hari harus dipanggil oleh Yang Kuasa.

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Mon Mar 31, 2008 10:38 pm

Ya...Robb…
Sesungguhnya hambamu ini adalah makhluk
yang sangatlah bodoh dan tidak mengerti apa-apa.
Sesungguhnya hanya Engkaulah Dzat yang maha tahu.
Dan apabila sekarang ini hambamu memiliki ilmu,
maka sesungguhnya ilmu tersebut adalah kepunyaan-Mu Ya Robb….

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Mon Mar 31, 2008 10:40 pm

Ya..Robb…
Jadikanlah ilmu yang hamba terima itu sebagai bekal menuju surga-Mu Ya Robb…
Jadikanlah ilmu yang hamba terima itu sebagai lentera ketika hamba berpulang kehadirat-Mu Ya…Robb…

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Thu Apr 03, 2008 1:40 pm

Keimanan itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Saudariku, - Jika Anda menghendaki taufiq untuk khusyu' maka jauhilah dari memandang yang haram. -Jika Anda menghendaki taufik untuk hikmah, maka jauhilah dari banyak bicara. - Jika Anda menghendaki taufiq untuk dapat mengetahui aib sendiri, maka hindarilah mencari aib orang lain.

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
JACK SEPARO
[YG]-=Gold=-
[YG]-=Gold=-


Male
Jumlah posting: 815
Age: 29
Location: Buitenzorgh @ Stone City
Registration date: 22.12.07

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Fri Apr 04, 2008 3:25 am

Sayah juga merenung ah I am so cute
merenungi tulisan ini....sambil minum kupi tentuna I am so cute

Yaaaa....kemarin tlah berlalu ...esok belum tenti....hari ini milik moe....cari ridho allah robb mu....tiada waktu terlambat untuk memperbaiki diri I am so cute I am so cute

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
riezka
-= Mbak Momod =-
-= Mbak Momod =-


Female
Jumlah posting: 576
Age: 25
Location: Deket Alum 2 Kudus
Registration date: 06.01.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Fri Apr 04, 2008 2:49 pm

ya 4LLI I.....
hamba sadar hamba hanya mahluk yang lemah
penuh dosa
berikan hamba kekuatan melebihi siapapun
agar hamba kuat
menjalani kehidupan di bumiMu ini ya Robb
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Justice Bao
-= Um Momod =-
-= Um Momod =-


Male
Jumlah posting: 1889
Age: 38
Location: Jakarta
Job/hobbies: don't trust anybody
Registration date: 06.03.08

PostSubyek: Re: Pojok Renungan   Thu Apr 10, 2008 3:30 am

Ya Robb ....

Hari demi hari ku lalui
Kegelisahan selalu menghantuiku
Berilah hamba setitik air penyejuk ya Robb ....

_________________
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.kitlv.nl
 

Pojok Renungan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions of this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
YeniGaluh Forum :: *** SANGGAR PAMUJAN *** :: -=YG'ers moeslim gaul n Smart..=--
Kirim topik baru   Kirim balasan